Tips

4 Tips Memilih Open Trip Agar Aman dari Penipuan

Kasus penipuan open trip yang dilakukan Easy to Holiday merugikan calon traveler hingga ratusan juta. Berikut tips agar tidak mudah tertipu open trip.

Kompas.com/Ana Shofiana Syatiri
Rombongan Open Trip Maldives Hemat di Sandbank 

TRIBUNMANADOTRAVEL.COM - Kasus penipuan open trip yang dilakukan travel agent akhir-akhir ini cukup banyak beredar, salah satunya kasus Easy to Holiday.

Berbeda dengan First Travel, Easy to Holiday diduga melakukan penipuan yang merugikan calon traveler hingga ratusan juta rupiah.

Open trip bermasalah seperti ini tidak hanya sekali terjadi.

Tak sedikit dari open trip bermasalah yang berujung pada kerugian peserta, mulai dari materil hingga emosional.

Sistem kepercayaan antara wisatawan dan penyelenggara wisata saja memang tidak cukup untuk bisa jadi jaminan liburan akan berjalan dengan lancar.

Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tips memilih open trip khususnya agar meminimalisir kemungkinan penipuan.

Salah satu yang paling penting adalah memperhatikan lisensi yang dimiliki para travel agent atau penyelenggara open trip terpercaya.

Berikut tips memilih agar tidak tertipu open trip yang bermasalah.

1. Cek Lisensi

Ilustrasi
Ilustrasi (fortune.com)

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno, sistem open trip jadi bermasalah karena biasanya yang mengadakan adalah perorangan.

Orang-orang tersebut biasanya tidak punya lisensi yang membuat mereka tidak memiliki badan hukum resmi yang bisa melindungi dalam penyelenggaraan open trip.

"Cek lisensi bisa ke asosiasi. Karena kalau tidak ada lisensi resmi, kita enggak pernah tahu orangnya (penyelenggaranya) siapa," ujar Pauline kala dihubungi Kompas.com pada Jumat (07/12/2019).

"Mereka malah jadi seperti calo, yang bisa mengambil promosi dari OTA tapi pas akan berangkat ternyata promosinya enggak ada, pasti enggak benar," lanjutnya.

Sistem open trip memang berbeda dengan sistem yang ada di travel agent konvensional.

Menurut Pauline, penyelenggara open trip tidak memiliki akses untuk melakukan block seat tiket yang bisa berakibat pada habisnya kuota tiket murah yang awalnya sudah ditawarkan open trip.

"Mereka menawarkan harga promo, bergantung pada promosi dari OTA dari agen travel," kata Pauline.

"Mereka kumpulkan orang dan biaya dulu, ibaratnya menjual lebih dulu tapi tidak modal untuk memesan duluan.

Hal itu bermasalah ketika akan berangkat lalu harga berubah," lanjutnya.

Menurut Ketua Dewan Penasehat Indonesia Tour Leader Association (ITLA), Rudiana, open trip adalah perjalanan oleh orang yang memesan destinasi sendiri, tetapi tiket dan akomodasinya sudah ada.

Tidak bergantung dengan grup yang selama ini jadi sistem yang berlaku di paket perjalanan konvensional.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved