Tokoh

Mariam, Relawan Jerman Bantu Sadarkan Pentingnya Melestarikan Alam ke Anak-Anak P. Bangka

Mariam, seorang warna negara Jerman yang menjadi relawan di Pulau Bangka, Sulawesi Utara. Ia mengajar Bahasa Inggris ke anak-anak Desa Lihunu.

TRIBUN MANADO/PASCHALIS SERTY
Mariam, Relawan Jerman Bantu Sadarkan Pentingnya Melestarikan Alam ke Anak-Anak P. Bangka 

TRIBUNMANADOTRAVEL.COM - Menjadi seorang relawan belum tentu dapat dilakukan oleh siapa saja, karena tidak mendapatkan imbalan.

Selain harus berkorban waktu, seorang relawan juga harus rela membagi pengetahuan mereka secara cuma-cuma.

Tentu saja ini seperti sebuah panggilan dari dalam hati untuk membantu sesama.

Hal itulah yang juga dialami oleh Mariam, seorang perempuan asal Jerman yang sudah mengabdi di Pulau Bangka selama 7 bulan.

Mariam menjadi relawan di Yayasan Suara Pulau yang fokus terhadap pendidikan dan pemberdayaan alam di Pulau Bangka, Sulawesi Utara.

Mariam melihat krisis perubahan iklim yang mulai terjadi di seluruh penjuru dunia sudah menjadi suatu hal yang berbahaya.

Banyak orang yang mulai acuh membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan sekitar mereka, terutama alam.

"Aku besar di lingkungan keluarga yang memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup, bertahan hidup itu adalah suatu hal yang sangat penting," kata Mariam, Minggu (15/12/2019).

Saat ditanya mengapa ia sangat tertarik dengan keberlangsungan alam di Indonesia, perempuan lulusan Ilmu Budaya dan Sosiologi ini menyebutkan kalau Indonesia memiliki banyak potensi alam yang indah.

"Indonesia punya banyak dan laut dan kehidupan bawah lautnya sangat indah, itu tidak ada di Jerman," tambahnya.

Mariam Bersama Anak-Anak Desa Lihunu di Coral Day 2019
Mariam Bersama Anak-Anak Desa Lihunu di Coral Day 2019 (TRIBUN MANADO/PASCHALIS SERTY)

Mariam sudah pernah menjadi relawan di Bandung dan Sumba dengan mengajarkan Bahasa Inggris dan Jerman ke masyarakat setempat.

Saat ini ia sedang menempuh pendidikan S2 mengambil jurusan Managemen Konflik di salah satu universitas di Berlin

Meski demikian, Mariam kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk menjadi relawan di Yayasan Suara Pulau.

"Suara Pulau sangat berbeda, ini bukan organisasi yang besar seperti NGO lainnya yang sering saya support," tuturnya.

Mariam menambahkan kalau Suara Pulau butuh lebih banyak dukungan.

Di Pulau Bangka, Mariam mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak di Desa Lihunu.

Menurutnya, mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak sangat penting agar saat mereka dewasa bisa berkomunikasi dengan semua orang.

Ia berharap agar kelak anak-anak di Desa Lihunu bisa berkomunikasi terkait masalah-masalah yang terjadi di Pulau Bangka seperti pertambangan dan pencemaran lingkungan.

"Aku hanya mau mereka tidak berdiam diri saja melihat tanah mereka rusak," tegas Mariam.

Mariam sangat berharap agar setiap orang bisa memiliki kesadaran akan pentingan pelestarian alam terutama terhadap bahaya perubahan iklim dan global warming.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved