Tips

Kenali Post-Holiday Syndrome Pasca Liburan, Apa Saja Gejalanya?

Kenali Post-Holiday Syndrome, kondisi yang membuat kualitas dan produktivitas hidup terganggu pasca liburan yang terlalu lama.

pexels.com
Ilustrasi 

TRIBUNMANADOTRAVEL.COM - Traveler pasti pernah mendatangi tempat liburan dengan momen yang menyenangkan dan tak terlupakan, baik itu positif maupun negatif.

Tak jarang, saking senangnya dengan tempat wisata tersebut, kamu akan terus-menerus memutar kembali pengalaman itu di perjalanan pulang seusai berlibur.

Namun, jika terus-menerus memikirkannya, bisa jadi kamu tengah mengalami kondisi Post- Vacation Blues, atau yang lebih dikenal dengan Post-Holiday Syndrome (PHS).

Apa itu Post-Holiday Syndrome?

Menurut Psikolog Ratih Ibrahim, Post-Holiday Syndrome adalah suatu kondisi yang membuat kualitas dan produktivitas hidup seseorang menjadi terganggu.

"Ini (PHS) terjadi pada seseorang setelah liburan. Biasanya karena liburannya terlalu lama. Mood dia masih liburan padahal dia sudah harus kembali dan berfungsi dalam ritme hidup yang normal seperti kerja atau belajar," kata Ratih saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/1/2020).

Ratih mengatakan, gejala umum PHS adalah rasa malas, tidak bersemangat, tidak antusias, dan tidak ceria dalam melakukan rutinitas sehari-hari.

Ilustrasi
Ilustrasi (Tribun Jogja)

Meskipun gejalanya sedikit mirip dengan jet lag, namun PHS dapat membuat seseorang uring-uringan.

Dengan kata lain, kamu seperti sedikit depresi setelah liburan. Dalam satu kasus, anak yang terkena PHS terkadang akan selalu ingin bermain terus, sehingga mengganggu waktu belajar.

Sementara untuk orang dewasa, PHS terkadang akan membuat seseorang mengeluh.

Jika keluhan terjadi dalam lingkungan kantor, maka hal tersebut akan memengaruhi perasaan dan produktivitas orang lain.

Menurut Psikolog Mira Amir, PHS juga dapat terjadi jika seseorang merasa tidak bahagia di tempat asalnya, namun merasa bahagia di tempat yang dijadikan tujuan untuk berlibur.

"Orang akan menyenangi tempat yang membuat mereka senang dan nyaman. Kalau sampai seseorang lebih menyenangi tempat liburan dan tidak ingin pulang, terlebih lagi anak-anak, maka orang tua pasti akan berpikir ada yang salah dengan rumah mereka,” kata Mira.

Hal tersebut bisa saja terjadi jika keadaan rumah tidak sebersih tempat mereka menginap ketika sedang berlibur.

Tentunya dengan keadaan seperti itu mereka akan selalu teringat akan tempat mereka berlibur dan membuat mereka sedih karena harus kembali ke rumah.

Dalam kasus PHS yang dialami anak-anak, Mira juga mengatakan, hal tersebut mungkin terjadi karena adanya perbedaan dengan lingkungan keluarganya.

Ilustrasi
Ilustrasi (istock)

Bisa saja ketika mereka sedang berlibur, keluarga mereka baik-baik saja, sehingga membuat mereka senang.

Namun ketika mereka kembali ke rumah, keluarganya kembali sering bertengkar.

"Ditambah lagi, jika mereka tahu bahwa ketika mereka kembali dari berlibur, mereka harus kembali masuk sekolah," kata Mira.

Mira menambahkan, PHS yang dialami oleh orang dewasa dan anak-anak terjadi karena adanya sesuatu yang tidak bisa dipenuhi di tempat tinggal mereka, namun terpenuhi di tempat mereka berlibur.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved