Terjebak di 2 Negara Selama 3 Bulan Lockdown, Turis Indonesia: Pahit, Tapi Ambil Positifnya Saja

Salah seorang turis asal Indonesia bernama Ezta Lavista berbagi cerita pengalamannya kala berwisata di masa pandemi virus corona.

Instagram/@camper.593
Danau Quilotoa, Ekuador. 

Tak hanya di situ, kebijakan pemerintah juga mengatur penduduknya yang memiliki kendaraan mobil untuk operasional penggunaan.

Setiap mobil yang ada di Ekuador juga diatur oleh pemerintah untuk penggunaannya pada waktu-waktu tertentu.

"Jadi didata itu semua mobil, platnya ini harus keluar kapan, lalu enggak boleh keluar atau digunakan itu kapan. Ada semua itu waktunya, jadi dijatah juga mobil keluar," terangnya.

Kebijakan lockdown di Ekuador memaksa Ezta untuk menghentikan kegiatan traveling. Kendati demikian, ia tak hanya berdiam diri ketika berada di penginapan.

Ia mengatakan banyak hal yang bisa dilakukan selama berada di rumah saja, salah satunya adalah membaca dan belajar tentang Bahasa Spanyol.

“Kegiatan saya waktu itu di Ekuador hanya membaca buku online dan belajar Bahasa Spanyol. Kan banyak tuh situs belajar gratis Bahasa Spanyol di internet. Jadi jangan dipikirkan enggak enaknya, cari kegiatan positif di rumah contohnya belajar,” cerita Ezta.

Pakai aplikasi Safe Travel

Ia juga mengaku mengandalkan aplikasi Safe Travel yang dibuat oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Menurutnya, aplikasi tersebut sangat membantu terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang untuk turis asal Indonesia.

Lebih lanjut, Ezta mengatakan bahwa ketika sedang berwisata dan mengalami masalah, WNI dapat langsung menghubungi kedutaan atau duta besar yang tersedia melalui aplikasi tersebut.

“Kedutaan juga menginformasikan kepada setiap WNI yang ada di luar negeri untuk jangan khawatir menghubungi mereka, karena pasti akan dibantu,” katanya.

Bagaimana cara Ezta sampai ke Meksiko?

Selang kurang lebih dua bulan berada di Quito, Ekuador, Ezta pun dihubungi oleh pihak KBRI Quito dan memfasilitasinya untuk terbang ke Meksiko dengan pesawat repatriasi.

“Jadi saya naik pesawat itu sebenarnya khusus untuk repatriasi orang-orang Meksiko yang ada di Quito. Jadi kalau saya tidak melobi orang KBRI itu tidak akan terjadi saya bisa ke Meksiko,” kenangnya.

Tiba di Meksiko, masalah pun kembali didapat Ezta kala semua hotel atau penginapan tutup karena kebijakan lockdown yang diterapkan pemerintah.

Lagi-lagi, dirinya dibantu oleh pihak KBRI Quito untuk melobi KBRI Meksiko terkait tempat menginap.

“Ya, hasilnya saya diizinkan untuk tinggal di wisma KBRI Meksiko hingga sekarang. Saya rencana kan sembilan hari di sini. Mulai dari 12 Mei sampai 21 Mei lalu terbang ke Vancouver untuk menuju Jakarta,” ujarnya.

Ia pun mensyukuri bahwa setiap perjalanan pasti selalu ada bantuan jika mau berusaha.

Ia sekali lagi mengimbau kepada wisatawan yang masih ada di luar negeri untuk dapat selalu memperbarui keadaannya kepada pihak kedutaan besar setempat.

Selain itu, tidak lupa juga untuk mengunduh aplikasi Safe Travel karena akan sangat berguna untuk mengontrol keberadaan wisatawan di luar negeri.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Pengalaman Turis Indonesia 3 Bulan Terjebak di 2 Negara karena Lockdown

https://travel.tribunnews.com/2020/05/20/kisah-turis-indonesia-terjebak-di-2-negara-selama-3-bulan-karena-lockdown

Ikuti kami di
Editor: Ventrico Nonutu
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved