Bentenan, Kain Khas Sulawesi Utara yang Bisa Dijadikan Oleh-oleh

Kain Bentenan umumnya dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di Minahasa.

Editor: muhammad irham
internet
Bentenan, kain khas masyarakat Sulawesi Utara 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Berwisata ke Kota Manado, Sulawesi Utara, tentu selain untuk berwisata, juga untuk berburu souvenir khas daerah ini. Bentenan bisa jadi pilihan untuk dijadikan oleh-oleh.

Sekilas Bentenan terlihat seperti batik padahal bukan. Bentenan merupakan kain tenun khas Manado yang dibuat oleh masyarakat Minahasa.

Motif tiap kain berbeda-beda dan memiliki penggambaran tersendiri.

Pewarna dari kain Bentenan pun masih alami. Rata-rata diambil dari alam, misalnya saja diambil dari serat kulit kayu pohon Sawukuow dan Lahendong.

Selain itu diambil juga dari serat nanas, bambu, serta pisang. Kamu bisa membelikan kain Bentenan untuk orang tua sebagai kenang-kenangan.

Kain Bentenan umumnya dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di Minahasa.

Namun begitu, nama Bentenan diambil dari nama wilayah pelabuhan utama di Sulawesi Utara yaitu Bentenan karena dari pelabuhan inilah pertama kali kain Bentenan diekspor pada abad 15-17 ke luar Minahasa.

Keistimewaan dari kain Bentenan ini yaitu proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama, kain bentenan ditenun dengan teknik dobel ikat.

Benang yang membentuk lebar kain (pakan) disebut Sa’lange dan benang yang memanjang (lungsi) disebut Wasa’lene.

Teknik double ikat seperti ini adalah teknik tenun ikat dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Sangat jarang teknik ini digunakan di daerah lain.

Motif yang dapat tercipta dari teknik ini akan bergambar halus, rumit dan sangat unik. Kain Bentenan ditenun tanpa terputus menghasilkan sebuah kain berbentuk silinder atau tabung.

Kemudian dalam proses pewarnaan, kain Bentanan menggunakan zat pewarna alami yang berasal dari tumbuhan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Warna biru atau hijau biasanya diperoleh dari pohon Taun, kemudian apabila ditambah dengan air kapur sirih, maka warna biru itu akan berubah menjadi hitam.

Semak Lenu (morinda bractenta) untuk warna kuning dan apabila dicampur air kapur sirih akan menjadi warna merah. Lelenu (peristrophe tinctoris) untuk warna merah, Sangket (homnolanthus paulifolius) kulitnya menghasilkan warna hitam.

Kain Bentenan sendiri memiliki tujuh motif yaitu Tinompak Kuda (tenun dengan aneka motif berulang), Tononton Mata (tenun dengan gambar manusia), Kalwu Patola (tenun dengan motif tenun Patola India) dan Kokera (tenun dengan motif bunga warna-warni bersulam manik-manik), Tonilama (tenun dari benang putih, tidak berwarna dan merupakan kain putih), Sinoi (tenun dengan benang warna warni dan berbentuk garis-garis), dan Pinatikan, tenun dengan garis-garis motif jala dan bentuk segi enam, merupakan yang pertama ditenun di Minahasa.

Karena proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama, kain tenun Bentenan dijual dengan harga mulai dari Rp600.000,00 dan untuk kain Bentenan Print dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp50.000,00 per meter nya tergantung dari bahan dan kualitas kainnya.(*/tribunmanado.co.id)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved