4 Kuliner Enak yang Bisa Kamu Nikmati Jika ke Danau Tondano, Pedasnya Bikin Ketagihan

Ikan yang tersedia seperti ikan mujaer, pior/kabos, payangka wiko (udang kecil), nike sepat siang (arwana), tawes, pongkor, bontayan

Editor: muhammad irham
int
Mujaer bakar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Jalan-jalan ke Kota Tondano, tidak sah jika tidak menyempatkan diri ke Danau Tondano atau ke Gunung Tondano.

Dua objek wisata ini sudah lama terkenal dengan keindahan alam serta kenikmatan kuliner yang disajikan.

Danau Tondano adalah danau paling besar di Sulawesi Utara. Luas Danau Tondano mencapai 4.278 ha atau 42,78 km. Danau ini diapit oleh Pegunungan Lembean, Gunung Kaweng, Bukit Tampusu, dan Gunung Masarang.

Jaraknya hanya 35 km dari Kota Manado atau 3 km dari Tomohon. Sebagaimana daerah lainnya yang memiliki danau, Danau Tondano juga menjadi sumber ikan tawar bagi masyarakat sekitar.

Ikan yang tersedia seperti ikan mujaer, pior/kabos, payangka wiko (udang kecil), nike sepat siang (arwana), tawes, pongkor, bontayan, lobster hitam, gurame kupu-kupu dan karper.

Di pinggir Danau Tondano, kamu bisa menikmati pemandangan alam sambil menikmati aneka kuliner yang ditawarkan.

Ada banyak rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang bibir danau. Salah satunya adalah rumah makan berbentuk kapal laut. Rumah makan tersebut bernama Rumah Makan Pemandangan.

Rata-rata bangunan rumah makan di pinggir danau terkesan menempel dan mengikuti kontur tanah bertebing. Tak heran memasuki rumah makan, kaki harus melangkah turun melewati tangga. Bahkan pondok-pondok tempat makan dibangun di atas air danau.

Ada empat macam kuliner yang bisa kamu nikmati jika berkunjung ke Tondano.
Per-porsi rata-rata dipatok dengan harga antara Rp 30.000,- hingga Rp 60.000,-.

1. Kolombi Woku

Siput yang berkembang biak secara alami di danau Tondano, disebut oleh warga dengan nama "kolombi".

Warna siput ini ada yang keemasan (keong emas) dan yang hitam. Dengan jala, para nelayan harus bangun pagi-pagi sebelum matahari menyengat, untuk mendapatkan kolombi ukuran besar yang mengapung di permukaan air danau.

Kuliner unik satu ini diolah menjadi sate kolombi atau kolombi woku santan. Menyantap kuliner ini, lidah siap bergoyang.

Rasa pedas khas masakan Minahasa bergelora di rongga mulut sehingga nasi terus tambah. Siang itu, kami pesan Kolombi Woku empat porsi dan ternyata ludes tak ada bekasnya.

2. Bakar Rica Mujaer
Yang membedakan ikan Mujaer danau Tondano dengan di Jawa adalah ukurannya yang besar, sebesar Gurameh, dan dagingnya yang putih pulen.

Lebih enak dimakan dengan cara dibakar ketimbang digoreng. Kalau digoreng, dagingnya menyusut.

3. Bebek Rica

Peternak Bebek di persawahan Tondano cukup banyak. Selain menghasilkan telor bebek, peternak juga menjual daging bebek yang sudah dipotong kecil-kecil.

Orang Minahasa lebih suka mengolah daging Bebek dalam potongan kecil-kecil untuk dirica-rica. Kuliner ini disajikan dengan rasa pedas. Tak ayal makan rica-rica bebek membuat ketagihan untuk menambah nasi.

4. Payangka Woku
Orang lebih suka menyebut ikan Payangka (Ophieleotris Aporos Bleeker) Remboken daripada ikan gabus.

Rupanya ikan payangka ini banyak ditemukan di Danau Tondano sebagai ikan endemik.

Menurut peneliti ekologi Danau Tondano (1979), ternyata anak ikan payangka itu adalah ikan nike yang dulu dianggap ikan yang tidak bisa besar.

Ikan nike (ikan berbadan kecil berukuran 10-30 mm) diburu dan dijadikan berkedel ikan yang enak rasanya.(*/tribunmanado.co.id)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved