Penerbangan Jarak Jauh Rawan Menjadi Klaster Penyebaran Corona

Beberapa hari setelah penerbangan, penumpang pesawat itu dinyatakan positif terkena virus corona.

Editor: muhammad irham
Tribunnews.com
Ilustrasi Penumpang Pesawat 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah hasil penelitian yang dirilis Pusat Pengendalian Penyakit (CDC), menunjukkan bagaimana seorang penumpang pesawat tanpa sadar menyebarkan virus corona pada Maret lalu.

Dilansir Daily Mail dari hasil penelitian, wanita yang berusia 27 tahun itu menularkan Covid-19 pada 15 penumpang lain dalam penerbangan selama 10 jam dari London, Inggris menuju Vietnam.

Dilaporkan, turis wanita itu menderita sakit tenggorokan sebelum terbang, kemudian menginfeksi 12 penumpang di kelas bisnis, dua penumpang di kelas ekonomi, dan seorang anggota awak kabin.

"Dia duduk di kelas bisnis dan terus mengalami sakit tenggorokan dan batuk selama penerbangan," informasi yang tertulis dalam laporan.

Beberapa hari setelah penerbangan, penumpang pesawat itu dinyatakan positif terkena virus corona.

"Rute penularan yang paling mungkin selama penerbangan adalah penularan aerosol atau droplet, khususnya untuk orang yang duduk di kelas bisnis," tambah laporan itu.

Informasi dari sumber yang sama menjelaskan, risiko penularan Covid-19 dalam pesawat selama penerbangan jarak jauh adalah nyata.

Hal itu menyebabkan cluster Covid-19 berukuran besar.

Bahkan dalam kelas bisnis sekalipun, di mana pengaturan tempat duduk lebih luas dibanding kelas ekonomi.

"Perjalanan udara membutuhkan waktu di jalur keamanan dan terminal bandara, yang dapat membuat Anda berhubungan dekat dengan orang lain dan permukaan yang sering disentuh," informasi yang tertulis dalam situs resmi CDC.

Kendati demikian, kebanyakan virus dan kuman tidak dapat menyebar dengan mudah dalam kabin pesawat karena udara bersirkulasi dan disaring.

"Namun, jarak sosial sulit dilakukan pada penerbangan yang ramai dan duduk dalam jarak 6 kaki dari orang lain, terkadang selama berjam-jam, dapat meningkatkan risiko terkena COVID-19," informasi dari sumber yang sama.

Sementara itu, para peneliti dari Institute of Hygiene and Epidemiology Vietnam berpendapat: "Meski industri penerbangan internasional menilai risiko transmisi dalam penerbangan sangat rendah, penerbangan panjang khususnya telah menjadi masalah yang semakin mengkhawatirkan karena banyak negara telah mulai mencabut pembatasan penerbangan meskipun transmisi SARS-CoV-2 sedang berlangsung."

Forbes melaporkan, terdapat sebuah studi yang mengamati sekelompok orang dalam satu penerbangan dari Boston ke Hong Kong pada Maret lalu.

"Mengingat riwayat kasus dan hasil urutan, urutan kejadian yang paling mungkin adalah bahwa salah satu atau dua penumpang tertular SARS-CoV-2 di Amerika Utara dan menularkan virus ke pramugari C dan D selama penerbangan," ujar peneliti tersebut.

"Satu-satunya lokasi di mana keempat orang berada dalam jarak dekat untuk waktu yang lama adalah di dalam pesawat," tambahnya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, Covid-19 dapat ditularkan di pesawat.
Sebuah data yang dirilis Association of Flight Attendants (AFA) menunjukkan, pramugari dan pekerja maskapai penerbangan lainnya memiliki kasus Covid-19 yang lebih rendah dibandingkan populasi umum.

Berdasarkan data tersebut, lebih dari 1.000 pramugari di dunia dinyatakan positif Covid-19.

Angka itu di luar 122 ribu orang yang bekerja sebagai kru kabin di Amerika Serikat (AS) pada akhir 2019, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja.

Jika dihitung, kasus Covid-19 pada pramugari hanya sekitar 0,8 persen.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved