Mengenal Sagu Porno, Kuliner Khas Warga Sangihe

Sagu dibakar menggunakan cetakan khusus yang terbuat dari tanah liat. Cetakan itulah yang disebut Porno

Editor: muhammad irham
int
Sagu Porno 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabupaten Kepulauan Sangihe dikenal sebagai daerah penghasil sagu di Sulawesi Utara. Tanaman sagu melimpah ruah di daerah ini.

Tak heran jika di daerah ini aneka penganan terbuat dari sagu dengan cita rasa yang cukup nikmat.

Salah satu pengananan berbahan sagu adalah, Sagu Porno.

Kenapa dinamakan Sagu Porno? Tak ada penjelasan resmi mengenai alasan menyebut nama ini.

’Dari dulu kami menyebutnya demikian,’’ kata seorang warga.

Sagu dibakar menggunakan cetakan khusus yang terbuat dari tanah liat. Cetakan itulah yang disebut ''Porno''. Sedangkan olahan sagunya, dalam bahasa lokal sebenarnya disebut humbia pineda.

Meski begitu, sampai sekarang masyarakat lebih popular menyebutnya dengan sagu porno.

Cetakan porno bentuknya terdiri dari beberapa kotak kecil persegi panjang. Sekilas mirip pembakar kue balok, panganan manis khas Bandung. Hanya saja lebih panjang.

Untuk membuat Sagu Porno, pertama-tama cara membuatnya adalah dengan membakar porno di atas bara api. Setelah cukup panas, tepung sagu kasar dituangkan di dalam cetakan, lalu cetakan ditutup dengan seng yang di atasnya diletakkan bara lagi.

Tinggal tunggu sagu masak dari hasil panas cetakan tanah liat tersebut.

Saat dicoba, rasanya memang gurih dan sangat cocok dimakan bersama menu kuah ikan segar atau ikan bakar.

Warga Kepulauan Sangihe memang menjadikan sagu porno ini menjadi pangan alternatif utama pengganti nasi. Ini karena tumbuhan sagu di Sangihe sangat berlimpah dan mereka tumbuh secara alami sejak dahulu kala.

Saking melimpah, beberapa kelompok tani di Kepulauan Sangihe akhirnya berinisiatif untuk mengolah sagu mereka dengan lebih modern.

Ini dilakukan agar hasil panen bisa digunakan secara utuh tidak hanya menjadi panganan sederhana favorit seperti sagu porno.

TEpung sagu di daerah ini juga kerap dijadikan mi, makaroni, bahkan beras analog.

Untuk mi sagu sendiri sudah banyak peminatnya dari warga lokal. Meski begitu, kelompok tani di sana merasa ingin melakukan perluasan penjualan olahan sagu ini.

Jadi, masyarakat tidak lagi melulu bergantung pada nasi. ‘’Beras’’ sagu juga tidak kalah menyehatkan.

Kata porno dalam nama Sagu Porno, diperkirakan berasal dari bahasa Portugis Forno. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya oven.

Kalau kita melihat bagaimana cara kerja cetakan porno terhadap olahan sagu ternyata fungsinya memang mirip dengan oven.

Hanya saja ini dilakukan lebih tradisional dan semuanya dilakukan dengan tangan manusia. Sumber panasnya juga hanya mengandalkan dari bara api saja.

Mengingat dari sejarahnya, Kerajaan Portugis memang pernah meninggalkan jejak di Sulawesi Utara pada awal abad ke-16 atau sekitar tahun 1500-an.

Namun karena kalah dari bangsa Belanda, mereka harus hengkang dari Sulawesi Utara pada pertengahan abad ke-17.(*/tribunmanado.co.id)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved