Destinasi Wisata

Indahnya Panorama Alam Gunung Dua Saudara Bitung

Cagar alam itu sendiri adalah salah satu hutan hujan terindah di Indonesia dan merupakan tempat terbaik untuk melihat tarsius langka.

Editor: muhammad irham
int
Panorama alam yang damai di kaki Gunung Dua Saudara, Kota Bitung, Sulawesi Utara 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Salah satu objek wisata alam di Kota Bitung yang terkenal adalah, Gunung Dua Saudara.

Objek wisata ini terletak di Desa Madidir, Kecamatan Madidir, Bitung, Sulawesi Utara. Lokasinya kurang lebih 12 km dari pusat Kota Bitung.

Dua Sudara adalah gunung non-aktif yang berdiri di sebelah timur gunung Klabat; Gunung yang menghadap langsung dengan cagar alam Tangkoko Batuangus.

Dua Saudara adalah gunung tertinggi di wilayah timur Gunung Klabat di Sulawesi Utara.

Sebenarnya ada tiga puncak utama yang diberi nama yaitu kawasan Taman Nasional Tangkoko-Batuangus-Dua Saudara.

Puncak kembar Gunung Dua Sudara menawarkan pemotretan panorama yang sempurna terutama saat diambil dari pantai Selat Lembeh.

Meski gunung berapi itu mengesankan, namun sampai saat ini belum banyak yang mendaki ke puncaknya yang berada di 1.351 meter di atas permukaan laut.

Tangkoko terletak di gunung berapi timur laut paling banyak di pulau Sulawesi dan terletak sekitar 3km timur laut Dua Saudara. I

ni memiliki kawah dalam yang besar yang sekarang dihuni dengan banyak spesies hewan dan tumbuhan langka. Pada tahun 1801, kawah tersebut berisi kerucut yang dikelilingi oleh air danau.

Pada saat ini, kubah lava datar baru muncul. Ini dinamai Batuangus (batu bakar) dan merupakan sumber aktivitas vulkanik kemudian (paling baru tahun 1880). Cagar alam dibuat pada tahun 1942 oleh orang Belanda.

Bukit Gunung Dua Sudara padat dengan pohon aren. Pemerintah Kota Bitung sengaja menanam banyak pohon aren untuk konservasi lingkungan.

Menurut Teori Wallace, Cagar Alam Tangkoko dan Gunung Dua Sudara secara teratur ditiup oleh angin panas. Aliran udara yang mengalir dari selatan ke utara.

Bila dibiarkan tak terhampar, angin panas akan berhembus langsung ke Kutub Utara, mempercepat mencairnya gletser di sana.

Selain pohon aren, masyarakat setempat sudah menanam jagung, ubi jalar, kelapa dan pisang, yang juga terlihat menghiasi lereng gunung ini.

Sisa lereng dipenuhi vegetasi rotan, pohon beringin, hutan jati dan ilalang. Hewan endemik Sulawesi seperti tarsius dan burung maleo juga membuat habitatnya juga.

Cagar alam itu sendiri adalah salah satu hutan hujan terindah di Indonesia dan merupakan tempat terbaik untuk melihat tarsius langka.

Banyak turis asing berkunjung untuk melihat makhluk itu pada waktu senja atau subuh, ditambah dengan monyet hitam, banyak burung enggang dan kuskus.

Meskipun Gunung Dua Sudara tidak begitu dikenal bila dibandingkan dengan gunung berapi lainnya yang lebih terkenal di Indonesia, namun kehadirannya merupakan anugerah bagi pendaki lokal.

Satu-satunya rute untuk mencapai puncak adalah melalui Kota Bitung. Biasanya memakan waktu sekitar 4 jam ke puncak, yang merupakan pendakian yang cukup sulit karena pendaki terkadang harus mengarungi daerah berlumpur.

Tidak ada izin khusus yang dibutuhkan, namun pejalan kaki harus membayar biaya masuk sebesar Rp. 85.000 untuk turis internasional dan Rp. 75.000 untuk pengunjung domestik.

Pembayaran dilakukan di Post no. 1 terletak di Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara di Desa Batuputih.(*/tribunmanado.co.id)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved