Cawali Bitung Usulkan Penyulingan Air Laut, Pengamat: Mimpi

Dua paslon calon Wali Kota Bitung wacanakan membuat program penyulingan air laut menjadi air bersih

Editor: muhammad irham
int
ilustrasi air laut 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dua calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bitung, Max Lomban-Martin Tumbelaka dan Victorine Lengkong dan Gunawan Pontoh, menyinggung program desalinasi atau proses pengolahan air laut menjadi air tawar dalam program kerjanya.

Program ini untuk mengatasi masalah krisis air besih yang sering terjadi di Bitung.

Menurut Max Lomban, jika terpilih menjadi Wali Kota Bitung, ia akan mencari solusi. Pertama dengan menjaga lingkungan. Kedua melakukan pengolahan air pantai menjadi air minum.

“Dan yang ketiga untuk kita ketahui bahwa program kita sekarang ada yang namanya program untuk saluran primer. Saluran tersier sudah banyak yang terpasang tapi saluran primer itu yang mengantarkan air dari sumbernya ke tempat-tempat yang cukup besar itu belum terbangun. Kita akan menggunakan bibir dalam jalan tol untuk menyalurkan pipa primer tersebut untuk disalurkan ke pipa sekunder dari pipa sekunder yang sudah cukup baik akan tersalur ke pipa tersier itu tahun depan bisa running,” jelasnya.

Victorine sendiri menyampaikan, permasalahan air bersih adalah jadi permasalahan yang utama bahkan sampai sekarang masih banyak masyarakat yang membeli air.

Karena itu pihaknya menawakna program, pertama, akan bekerjasama dengan perusahaan daerah PADM untuk menunjuk orang-orang yang berkompeten agar supaya dia tahu solusi bagaimana air bersih bisa tersedia.

Karena ada informasi kata dia, ada pipa tapi air itu tidak bisa naik, itu yang menjadi keluhan masyarakat.

“Apa yang disampaikan Pak Max tadi yaitu air laut menjadi air bersih, ini ada contohnya di Provinsi Bali. Nah itu bisa kita kembangkan di sini, karena airnya juga bisa menjadikan pendapatan bagi masyarakat apabila kita jual dan jangan sampai ada program-program yang merusak mata air,” katanya.

Menanggapi program ini, pengamat pemerintahan Sulawesi Utara, Novry Topit, rencana itu hanya mimpi.

Menurutnya, wacana seperti itu sudah pernah ada sejak kepemimpinan Almarhum Hanny Sondakh. Namun hingga kini, wacana tersebut tak kunjung direalisasikan karena butuh dana besar.

Menurut Novry, hasil analisis penyulingan air laut dibagi dalam dua kategori yaitu pengolahan destilasi dan reserveosmosis, pengolahan sistim destilasi biayanya cukup besar mencapai Rp 35 miliar sampai Rp 300 miliar untuk alat yang kapasitas produksi sebesar 50 liter perdetik.

“Namun kualitas air yang dihasilkan dalam kondisi standar. Sedangkan pengolahan sistim reserveosmosis jauh lebih mahal karena kualitas yang dihasilkan melalui pengolahan ini menghasilkan kualitas air yang sangat baik dan bisa di komsumsi langsung, namun produksi untuk kapasitas 50 liter perdetik, mesin pengolahnya seharga puluhan hingga ratusan miliar,” kata Novry, Senin (23/11/2020).

Berdasarkan penelusuran itu, aktivis muda Kota Bitung ini menganggap, ide atau gagasan yang disampaikan Paslon terkait program pengolahan air laut hanya untuk gagah-gagahan untuk meraih simpati dukungan dari masyarakat.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved