Kota Bitung yang Selalu Dilindungi oleh Pulau Lembeh

Kota Bitung memiliki gunung, hutan, pantai, pulau, lembah, teluk, sungai, dan selat. Salah satu yang paling unik adalah Pulau Lembeh.

Editor: muhammad irham
kesiniaja.com
Wisatawan berenang di sekitar Pulau Lembeh yang berair tenang dan jernih 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kota Bitung, Sulawesi Utara, disebut sebagai kota paling lengkap di dunia. Hampir semua potensi alami ada di Bitung yang dijuluki kota cakalang ini. Jarang ada kota selengkap ini.

Kota Bitung memiliki gunung, hutan, pantai, pulau, lembah, teluk, sungai, dan selat. Salah satu yang paling unik adalah Pulau Lembeh.

Yang memisahkan Pulau Lembeh dengan Pulau Sulawesi adalah Selat Lembeh yang merupakan perairan sempit. Kota Bitung terletak di salah satu sisi selat ini. Karena Kota Bitung berada di ujung Pulau Sulawesi.

"Pulau Lembeh seakan membentengi Kota Bitung. Pulau ini bisa dikata pemberian Tuhan secara gratis. Karena kalau tidak ada pulau itu, Kota Bitung sudah lama selesai," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bitung, Audy Pangemanan saat diwawancarai Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Audy, karena di atas Pulau Sulawesi itu ada Asia Pasifik.

"Notabene gelombangnya kencang," ujarnya.

Dengan adanya Pulau Lembeh ini, perairan yang di Pelabuhan Bitung sangat tenang dan alami. Semua kapal bisa masuk dengan aman.

Pulau Lembeh memiliki luas 5.040 hektar. Kedalaman air yang ada di Selat Lembeh sampai 40-100 meter.

Ada sekira 27 resort di sepanjang Selat Lembeh. Resort-resort itu ada yang dimiliki asing, tapi lebih banyak milik lokal.

13 kali mendapatkan Adipura

Kota Bitung sudah 13 kali meraih Adipura sebagai kota terbersih di Sulawesi Utara. 12 di antaranya diraih secara berturut-turut, mulai tahun 2006.

"Itu bukti bahwa kota ini komitmen, dan komitmen ini dijalankan konsiten," kata Audy, yang juga sebagai Ketua Tim Percepatan Pariwisata Kota Bitung.

Meski sudah meraih 13 penghargaan Adipura, Kota Bitung masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

Dikarenakan, pertumbuhan pendudukan di Kota Bitung tinggi. Disebabkan migrasi penduduk. Penanganan sampah dan bebas kemasan plastik Penanganan sampah yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung, masih manual.

Mereka masih menggunakan mobil sampah keliling. Pemkot saat ini mengejar pemilihan sampah rumah tangga.

Sampah organik yang bisa dikelola rumah tangga masing-masing tidak di keluarkan. Sayuran, misalnya, sudah bisa dilakukan pengomposan.

Yang dikeluarkan adalah sampah anorganik, seperti plastik. "Itu yang terus kita sosialiasikan. Terkait hal itu, kita sudah ada perda dan jelas ada sanksinya," sebut Audy.

Pemkot Bitung telah membuat kebijakan tidak menyediakan botol plastik disetiap acara, baik di gereja, masjid, dan acara-acara lain.

Langkah ini untuk memerangi sampah plastik yang tidak ramah lingkungan, sehingga berdampak pada kelangsungan hidup baik manusia dan lingkungan terlebih khusus pencemaran terhadap laut.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved