Destinasi Wisata

Jerjak Kekejaman Tentara Sekutu di Penjara Tua Kema, Minahasa Utara

Penjara tersebut didirikan sebagai tempat untuk menahan orang-orang yang melawan bangsa Portugis dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Editor: muhammad irham
Tribun Manado
Penjara Tua Kema di Minahasa Utara, Sulawesi Utara 

TRIBUNMANADO.CO.ID -  Penjara Tua Kema yang terletak di Desa Kema II, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara merupakan peninggalan bangsa Portugis yang dibangun pada tahun 1585.

Penjara tersebut didirikan sebagai tempat untuk menahan orang-orang yang melawan bangsa Portugis dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Penjara tua tersebut letaknya sekira 500 meter dari pantai. Dahulu kala, kawasan di sekitar penjara itu merupakan pelabuhan atau bandar kema dan banyak disinggahi pedagang dari Portugis, Arab, China hingga Belanda.

Penjara tua kema sendiri dahulu merupakan bagian dari sebuah benteng pertahanan besar yang dibangun menghadap laut oleh Portugis untuk mencegah ekspansi Spanyol.

Beberapa waktu lalu, sekelompok warga Jepang melakukan sembahyang di objek wisata itu sebelum era pendemi Covid-19.

Persembahyangan berlangsung sesuai tata cara agama Shinto, yang merupakan agama mayoritas warga negara Sakura tersebut.

"Setelah habis ibadah, mereka bagi barang - barang kepada warga sekitar sini," kata Memed, warga sekitar Penjara Tua yang ditemui Tribun Manado, Sabtu (19/12/2020).

Keterangan guide yang mengantar rombongan, para turis Jepang itu bersaudara satu sama lain.

Yang didoakan adalah kakek mereka yang wafat di penjara tersebut saat masa penjajahan Jepang di Indonesia.

"Mereka tahu itu dari buku memoar seorang prajurit Jepang. Dalam buku itu ada catatan tentang kakek mereka yang wafat di penjara tua setelah ditawan tentara sekutu," katanya.

Penjara Tua dibangun oleh Portugis pada tahun 1500-an. Kemudian diambil alih Belanda pada 
masa kekuasaan VOC.

Di sinilah jejak berdarah penjara itu dimulai. Para tahanan yang ditahan di sana adalah yang sudah pasti dihukum mati.

Mereka adalah politisi, pemberontak dan penjahat besar yang dosanya tak terampuni.

Pahlawan nasional Imam Bonjol dan Kyai Modjo pernah ditawan di penjara itu.

Kekejaman tersebut berlanjut di era penjajahan Jepang dan selanjutnya saat Sekutu yang membonceng NICA tiba di pelabuhan Kema untuk melucuti tentara Jepang.

Tak jauh dari penjara tersebut, terdapat sebuah lokasi pembantaian.

Para tahanan dimasukan dalam sebuah tempat mirip lorong bawah tanah kemudian ditembak dari dari atas.

Atau, tahanan disuruh menggali lubang, lantas ditembak dan dikubur pada lubang yang ia gali. 

Lokasi pembantaian tersebut kini telah menjadi rumah warga. 

Entah sudah berapa ratus nyawa yang melayang di sana.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved