Destinasi Wisata

Jerjak Kekejaman Tentara Sekutu di Penjara Tua Kema, Minahasa Utara

Penjara tersebut didirikan sebagai tempat untuk menahan orang-orang yang melawan bangsa Portugis dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Editor: muhammad irham
Tribun Manado
Penjara Tua Kema di Minahasa Utara, Sulawesi Utara 

Penjara tersebut berada di Desa Kema 2, Kecamatan Kema, Kabupaten Minut.

Jarak dari Manado sekira-kira 25 kilometer. Transportasi lancar, menggunakan angkutan umum serta online.
Tampak penjara itu masih kokoh dengan dinding setebal hampir semeter, serta pintu besi dengan bagian atasnya berterali. Penjara  itu sendiri tak terlalu besar, hanya memiliki tiga ruang.

Terletak di tengah pemukiman penduduk, jalan masuk menuju penjara  adalah sebuah tempat mirip gang yang tertutup gerbang besi. Jalan masuk ke sana sudah ditutupi paving.

Miqbil Tawaa penjaga penjara tua menyatakan, penjara  itu dibangun pada tahun 1585 oleh Portugis. Penjara tersebut merupakan bagian dari benteng besar yang dibangun menghadap laut.

"Waktu itu, ada rivalitas antara Spanyol dan Portugis, benteng  itu dibangun untuk mencegah ekspansi Spanyol," kata dia.

Benteng  itu dibuat menurut model benteng  yang umum saat itu, di mana penjara  berada di bagian belakang, sedang di depan terdapat meriam. Ismet menunjuk bagian depan penjara  yang kini jadi pemukiman penduduk sebagai bekas benteng.

"Bekas fondasinya masih ada," kata dia.

Diceritakannya, benteng  itu luluh lantak oleh meriam dari kapal perang Belanda. Namun penjara  itu tak ikut hancur karena berada di bagian belakang benteng . Pemboman besar - besaran itu mengakhiri era Portugis, kemudian Belanda berkuasa hingga 300 tahun kemudian.

Penjara  itu sudah jadi momok bagi setiap penjahat perang di zaman Portugis. Terlebih di zaman Belanda, yang punya banyak musuh, baik dari negara asing maupun warga sekitar. 

"Penjara  itu jadi tempat tahanan terakhir sebelum dieksekusi, yang ditahan di sini adalah tokoh politik serta pemberontak, jika masuk ke sini hampir bisa dipastikan nyawanya tak bisa selamat," cerita dia

Bentuk penjara  yang sempit, ruang yang kaku ditambah sikap kejam penjaga penjara melemahkan semangat tahanan, hingga mereka seolah - olah sudah mati dulu sebelum benar - benar dieksekusi.

Salah satu pejuang yang pernah merasakan kerasnya penjara  Tua Kema adalah Imam Bonjol. Pejuang dalam Perang Padri ini ditahan bersama 10 pengikutnya, dan tak lama kemudian dibawa ke Pineleng.

"Di sinilah ia ditawan," kata dia sambil menunjuk sel kanan yang pintunya dicat aspal ter.

Kengerian penjara  tua Kema berlanjut di zaman perang dunia 2, ketika banyak orang Belanda dijebloskan ke sana oleh Jepang lantas dibunuh. 

Karim Ombinggo penjaga penjara  sejak tahun 1960 mengaku mengalami kejadian aneh sewaktu pertama menjaga penjara  itu.

"Ada suara orang menjerit kesakitan seperti dipukul, lalu suara kera ," ujarnya.

Malam berikutnya, kembali ia mendengar suara itu. Mulanya ia takut, namun lama kelamaan terbiasa.

"Saya sudah sering mendengar itu," kata pria yang sudah menjadi PNS ini.

Menurut Karim, tempat itu sudah jadi objek wisata, yang banyak dikunjungi wisatawan.

"Banyak turis yang kagum dengan penjara  ini, mereka tahan berlama - lama di sini, meski yang ada hanya ruang kosong,"  ucapnya.

Penjara  itu sudah dua kali dipugar, terakhir beberapa tahun lalu.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved