Virus Corona

Makin Kompleks, Gangguan Tidur Masuk Salah Satu Gejala Terinfeksi Corona

Masyarakat harus makin waspada, termasuk dengan mengenali gejala baru virus corona.

Editor: muhammad irham
int
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasus harian virus corona baru di Indonesia tiga hari berturut menembus angka 8.000. Masyarakat harus makin waspada, termasuk dengan mengenali gejala baru virus corona.

Rabu (30/12), Kamis (31/12), dan Jumat (1/1), jumlah kasus baru virus corona melewati angka 8.000. Tambahan kasus baru ini mengantarkan infeksi di negara kita total menjadi 751.270 kasus hingga Jumat (1/1).

Jelas, masyarakat harus semakin waspada dengan peningkatan kasus tersebut, termasuk dengan mengenali gejala virus corona, mulai yang paling umum hingga yang kurang umum termasuk gejala baru.

Gejala virus corona yang paling umum, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adalah: demam, batuk kering, dan kelelahan.

Gejala baru virus corona
 

Melansir situs resmi WHO, berikut gejala baru virus corona:

Sifat lekas marah

Kebingungan

Kesadaran berkurang (terkadang berhubungan dengan kejang)

Kegelisahan

Depresi

Gangguan tidur

Komplikasi neurologis yang lebih parah dan jarang terjadi, seperti stroke, radang otak, delirium, dan kerusakan saraf 

Dua studi terbaru menunjukkan, delirium menjadi salah satu gejala awal baru infeksi virus corona, khususnya pada kelompok lanjut usia alias lansia. 

Mengutip EurekAlert, kesimpulan utama tersebut merupakan hasil tinjauan penelitian ilmiah para peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC), Spanyol.

Studi yang terbit di Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy itu menemukan, bersamaan dengan hilangnya indra perasa dan penciuman serta sakit kepala yang terjadi pada hari-hari sebelum batuk dan kesulitan bernapas, beberapa pasien Covid-19 juga mengalami delirium.

"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana orang tersebut merasa tidak berhubungan dengan kenyataan, seolah-olah mereka sedang bermimpi," kata peneliti UOC Javier Correa.

UOC melakukan studi tentang efek virus corona terhadap sistem saraf pusat, yaitu otak. Penelitian ini menemukan, virus corona juga memengaruhi sistem saraf pusat dan menghasilkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium.

Hipotesis utama yang menjelaskan bagaimana virus corona memengaruhi otak menunjuk pada tiga kemungkinan penyebab: 

Hipoksia atau defisiensi oksigen saraf
Radang jaringan otak akibat badai sitokin

Fakta bahwa virus memiliki kemampuan untuk melintasi darah-penghalang otak untuk langsung menyerang otak

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved