Destinasi Wisata

Indahnya Malalayang, Pantai yang Dijuluki Negeri Senja

Sastrawan sekaligus penulis novel Seno Gumira Adjidarma (SDA) menjuluki Kota Manado di Sulawesi Utara, dengan sebutan Negeri Senja

Editor: muhammad irham
Pesona Indonesia
Senja di Pantai Malalayang 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sastrawan sekaligus penulis novel Seno Gumira Adjidarma (SDA) menjuluki Kota Manado di Sulawesi Utara, dengan sebutan Negeri Senja. Julukan itu diabadikan oleh SDA dalam judul romannya, Roman Negeri Senja. Roman ini berhasil menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2004.

Terlepas dari pemimpin Negeri Senja --Puan Tirana-- yang buta dan kejam, penggambaran senja pada Negeri Senja membuat pembacanya penasaran, bagaimana senja yang sangat indah itu?

Dalam dunia nyata, keindahan senja yang tergambar di Negeri Senja karangan SDA mungkin bisa kita temukan di sebuah pantai tua dekat Manado bernama Malalayang.

Pantai itu paling dekat dengan kota dan bisa dicapai dalam 10-15 menit dengan melalui jalan antarkota yang menyempit dan mengarah ke barat daya Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).

Presiden Joko Widodo pernah menyebut bahwa Sulut adalah bintang pariwisata baru Indonesia. Setidaknya ada lima destinasi wisata di Sulut yaitu yaitu Bunaken, Selat Lembeh, Pulau Mahoro, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, dan Pantai Malalayang.

Salah satu tempat tepat untuk menyelam dan menikmati senja adalah Pantai Malalayang.

Pantai Malalayang memiliki sedikit pasir dan selebihnya adalah batu bulat. Batu memang sesuatu yang berarti bagi suku Bantik (sub suku Minahasa) yang mendiami daerah Malalayang. Setidaknya ada empat situs yang mengiringi sejarah wilayah ini  yaitu batu Niopo, batu Buaya, batu Kuangang dan batu Lyarna. 

Batu Niopo dipercaya sebagai tempat Tuhan (lazim disebut Opo Lramo) bertemu secara spiritual dengan suku Bantik. Orang bisa berdoa menyampaikan permohonannya kepada Tuhan di batu ini. Karena itu, tempat yang tak jauh dari monument pahlawan R.W. Monginsidi ini sangat dikeramatkan.

Situs kedua adalah batu Buaya atau Bihuayang yang letaknya tak jauh dari batu Niopo. Bentuknya menyerupai badan buaya dan di masa lalu dipercaya sebagai wujud musuh dari suku lain yang kemudian dikalahkan oleh tokoh suku Bantik. Batu ini juga dipercaya menjadi pelindung suku Bantik saat Jepang berkuasa. Di tempat ini, sesekali  masyarakat  masih memberikan sesaji dan memasang lampu Situs

Ketiga adalah batu Kuangang yang bentuknya mirip mainan congklak (dakon). Batu Kuangang dipercaya sebagai permainan anak yang dibuat oleh seorang bapak. Karena sang bapak dan ibu meninggalkannya untuk bekerja dalam waktu lama, sang anak  terus menerus menangis. Untuk menghibur hati sang anak, bapak menatah sebuah batu sebagai alat permainannya. Usahanya ternyata berhasil karena sang anak gembira dengan mainan kuangangnya, dan tidak menangis lagi. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved