Penerbangan

Bolehkah Pilot Tidur Saat Menerbangkan Pesawat? Ini Penjelasannya

Berbeda dengan penumpang yang bisa tidur nyenyak di kursi penumpang, rupanya pilot memiliki aturan khusus yang mengatur jam tidur mereka.

Editor: muhammad irham
int
Ilustrasi pilot pesawat 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Apa yang terjadi jika seorang pilot ketiduran selama penerbangan? Atau apakah pilot bisa tidur selama penerbangan? Tentu, menjadi satu hal yang tak bisa dibayangkan.

Rasa kantuk akibat kelelahan menjadi hal lumrah yang sering terjadi.

Berbeda dengan penumpang yang bisa tidur nyenyak di kursi penumpang, rupanya pilot memiliki aturan khusus yang mengatur jam tidur mereka.

Ini berarti, pilot tak boleh sembarangan tidur dan mengantuk selama penerbangan.

Lantas, apakah berbahaya jika seorang pilot mengantuk selama penerbangan?

Dilansir dari laman Reader's Digest, sebuah survei yang dilakukan National Sleep Foundation mengungkapkan kebiasaan tidur berisiko bagi para profesional transportasi.

Sebanyak lebih dari 24 kecelakaan dan lebih dari 250 kematian dikaitkan dengan kelelahan pilot dalam 20 tahun terakhir, menurut Badan Keselamatan Transportasi Nasional.

Terbaru, ABC News menunjukkan pilot dan mantan pilot bahkan tertidur di tengah penerbangan.
Survei National Sleep Foundation mengungkapkan bahwa pilot yang kelelahan, sopir bus dan operator kereta api tidak bisa tidur nyenyak.

Lebih dari separuh pilot dan operator kereta mengatakan bahwa mereka jarang atau tidak pernah mendapatkan istirahat malam yang nyenyak dan kurang tidur ini dapat menyebabkan masalah keamanan yang mengkhawatirkan.

Sebanyak 20 persen pilot, 18 persen operator kereta api dan 14 persen pengemudi truk yang disurvei mengatakan bahwa mereka hampir celaka dalam pekerjaan karena kantuk.

Aturan Baru untu Penerbangan Lebih Aman

Hasil survei NSF, muncul sekitar dua bulan setelah Administrasi Penerbangan Federal mengeluarkan perombakan aturan yang memastikan bahwa pilot beristirahat dengan baik.

Di bawah pedoman lama, pilot dapat bekerja 16 jam sehari atau lebih dan hanya memiliki delapan jam istirahat di antara shif (termasuk waktu untuk pergi ke hotel, tidur, makan, berpakaian dan kembali bekerja), menurut USA Today.

Aturan baru menjelaskan bahwa pilot membutuhkan 10 jam istirahat antar shif, yang mana harus 14 jam atau kurang dengan waktu penerbangan sebenarnya dibatasi delapan atau sembilan jam.

Namun, aturan FAA baru tidak berlaku hingga Januari 2014, yang berarti masih ada potensi masalah dengan pilot yang mengantuk.

Selain itu, kritik terhadap pedoman baru tersebut mengklaim bahwa mereka gagal menangani subjek kontroversial tentang perjalanan para pilot untuk bekerja, penyebab potensial yang signifikan terhadap kelelahan mereka.

Menurut USA Today, perjalanan panjang seringkali menjadi kebutuhan ekonomi bagi pilot, karena gaji yang rendah membuat sulit untuk tinggal di dekat kota-kota pusat komuter yang besar.

Risiko Mengantuk di Perjalanan

Traveler mungkin tidak dapat berbuat banyak tentang pilot yang mengantuk atau pengemudi bus atau truk.

Tetapi traveler dapat memperhatikan kebiasaan mengantuk saat mengemudi seorang diri.

Setiap tahun 1,9 juta pengemudi mengalami kecelakan terkait kelelahan atau nyaris celaka, menurut Dewan Keselamatan Transportasi Nasional, Mark Rosekind, PhD.

Pusat Penelitian Keamanan North Carolina University menemukan bahwa kecelakaan terkait tidur lebih mungkin terjadi di antara mereka yang tidur kurang dari enam jam setiap malam.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved