Sulawesi Utara

Berusia 153 Tahun dan Menjadi Gereja Tertua di Minahasa, Begini Kondisi GMIM Galilea Watumea

"Ornamen yang ada masih digunakan, kecuali yang rusak dan tak bisa digunakan lagi sudah kami simpan di gudang," sebutnya.

Editor: Isvara Savitri
Tribunmanado.co.id/Martsindy Rasuh
Kondisi terkini GMIM Galilea Watumea yang merupakan gereja tertua di Minahasa. 

Pada bagian depan/panggung terdapat mimbar berbentuk cawan bersudut dan berhiaskan bunga-bunga ukiran dari pahat.

Mimbar kayu ini bukan baru kemarin, ternyata telah berusia lebih dari 100 tahun, karena dibuat pada tahun 1872 yaitu saat bangunan gereja ini ditahbiskan.

Baca juga: Berkenalan dengan Pantai Batu Pinagut, Primadona Pariwisata Bolaang Mongondow Utara

Baca juga: Ingin Berwisata di Musim Hujan? Yuk Simak Tips Berikut Ini

Selain itu, bagian dalam atap seluruhnya terbuat dari susunan papan kayu, dengan titik lampu gantung di tengahnya yang dipasang pada tahun 1924.

Ada ornamen tempat lampu yang dipasang di tiang-tiang penyangga gereja yang juga terpasang tahun 1924, bersamaan dengan pemasangan lampu-lampu gantung dan kaca-kaca patri.

Perlu diketahui, GMIM Galilea Watumea Minahasa ditetapkan sebagai gereja tertua di Minahasa oleh Dinas Kebudayaan pada Februari 1983, dan pada 4 Maret 2003 ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang. 

Saat Tribun Manado bertemu dengan Kostor atau disebut penjaga gereja, Refly Pandoh menerangkan bahwa semua perabot yang ada di dalamnya masih asli dan belum ada yang diganti.

Misalkan kursi rotan masih tetap terpakai sampai saat ini, meski sudah ada yang disimpan di gudang karena rusak.


Ketua BPMJ GMIM Galilea Watumea Pdt Inneke Tulangi STh (Martsindy Rasuh)

"Ornamen yang ada masih digunakan, kecuali yang rusak dan tak bisa digunakan lagi sudah kami simpan di gudang," sebutnya.

Sementara Ketua BPMJ GMIM Galilea Watumea Pdt Inneke Tulangi STh mengungkapkan, lonceng yang ada di atap pun masih tetap digunakan untuk memberi tanda masuk gereja,

sesekali digunakan untuk kegiatan-kegiatan gerejawi antar denominasi, untuk kedukaan, maupun kegiatan kemasyarakatan.

"Lonceng digunakan untuk semua masyarakat, baik kedukaan, kegiatan kemasyarakatan dan semua golongan menggunakan ini. Termasuk pemberitahuan kegiatan dari gereja-gereja yang ada di Desa Watumea," sebutnya.

Dirinya menambahkan, gereja tertua ini masih aktif digunakan jemaat untuk beribadah, setiap kegiatan jemaat tetap dilaksanakan di gereja. 

Baca juga: Ingin Berwisata di Musim Hujan? Yuk Simak Tips Berikut Ini

Baca juga: Kabar Baik, Lion Air Gratiskan Bagasi Bagi Penerbangan PP Jakarta dan Batam

"Meskipun kendala pandemi covid-19 saat ini, tapi tetap digunakan. Yang pasti sampai sekarang kami masih menggunakan gedung gereja ini sebagaimana mestinya," sampainya.

Kata Tulangi, jika memang ada yang perlu diganti akan kami sampaikan ke pemerintah terkait khususnya yang bertanggungjawab pada cagar budaya ini.

Ia menjelaskan, terkait dengan penamaan gereja, mungkin karena dekatnya gereja tua itu dengan Danau Tondano, sehingga diberi nama Galilea.

"Mungkin tua-tua kampung waktu itu menamakan Galilea karena dekat dengan danau, jadi namanya seperti itu," ucapnya bercanda.

Ia pun berharap, agar jemaat GMIM Galilea Watumea mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah yakni Pemkab Minahasa.

Karena menurut dia, gedung gereja tua ini berbeda dengan yang lain, dikarenakan merupakan situs budaya dan peninggalan sejarah di tanah Minahasa.

"Setidaknya ada bantuan yang bisa dirasakan masyarakat Watumea dari Pemkab Minahasa," tandasnya.(*)

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul Berusia 153 Tahun, Begini Kondisi Terkini Gereja Tertua di Minahasa.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved