Wisata Minsel

Inilah Cagar Budaya Watu Lutau dan Air Terjun di Desa Tondei Minahasa Selatan

Ada yang memakai pakaian kabasaran, ada yang hanya melengkapi dengan kain khas Minahasa, ada juga yang hanya mengenakan pakaian biasa.

Editor: aldiponge
rul mantik
Air Terjun Wonosirang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Travel Rull Mantik  

TRIBUNMANADO.CO.ID - Watu Lutau berada tak jauh dari pemukiman warga. Dengan menempuh perjalanan kendaraan bermotor sekira 2 menit, pengunjung sudah tiba di lokasi.  

Watu Lutau berbentuk seperti tempat tumbuk padi di jaman dulu. Dari wujudnya terlihat seperti meriam raksasa yang berdiri menghadap langit. Di tengahnya terdapat lobang yang kedalamannya separuh.

Di bagian luar Watu Lutau, terdapat ukiran dua orang manusia yang berdiri sambil bergandeng tangan. Ukiran itu mirip ukiran yang banyak ditemukan di waruga, atau kuburan jaman batu.

Menurut kepercayaan warga, lukisan itu melambangkan Adam dan Hawa, manusia pertama yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini.

Banyak orang menyebut, Watu Lutau itu adalah lesung, alat untuk menumbuk padi di zaman dulu.

Namun, jika ini disamakan dengan lesung, ukurannya terbilang raksasa. Sebab, ukuran lesung hanya 50 centimeter, sementara ukuran Batu Lutau memiliki tinggi lebih dari 160 sentimeter.

Jika dilihat dari jarak di atas 10 meter, batu itu terlihat mirip moncong meriam raksasa.

Mengapa Disebut Watu Lutau?

Dalam bahasa daerah Tountemboan, Watu Lutau berarti Batu Tembak atau Batu Senjata.

Sumber: Tribun Manado

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved