Wisata Minsel

Inilah Cagar Budaya Watu Lutau dan Air Terjun di Desa Tondei Minahasa Selatan

Ada yang memakai pakaian kabasaran, ada yang hanya melengkapi dengan kain khas Minahasa, ada juga yang hanya mengenakan pakaian biasa.

Editor: aldiponge
rul mantik
Air Terjun Wonosirang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Travel Rull Mantik  

TRIBUNMANADO.CO.ID - Watu Lutau berada tak jauh dari pemukiman warga. Dengan menempuh perjalanan kendaraan bermotor sekira 2 menit, pengunjung sudah tiba di lokasi.  

Watu Lutau berbentuk seperti tempat tumbuk padi di jaman dulu. Dari wujudnya terlihat seperti meriam raksasa yang berdiri menghadap langit. Di tengahnya terdapat lobang yang kedalamannya separuh.

Di bagian luar Watu Lutau, terdapat ukiran dua orang manusia yang berdiri sambil bergandeng tangan. Ukiran itu mirip ukiran yang banyak ditemukan di waruga, atau kuburan jaman batu.

Menurut kepercayaan warga, lukisan itu melambangkan Adam dan Hawa, manusia pertama yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini.

Banyak orang menyebut, Watu Lutau itu adalah lesung, alat untuk menumbuk padi di zaman dulu.

Namun, jika ini disamakan dengan lesung, ukurannya terbilang raksasa. Sebab, ukuran lesung hanya 50 centimeter, sementara ukuran Batu Lutau memiliki tinggi lebih dari 160 sentimeter.

Jika dilihat dari jarak di atas 10 meter, batu itu terlihat mirip moncong meriam raksasa.

Mengapa Disebut Watu Lutau?

Dalam bahasa daerah Tountemboan, Watu Lutau berarti Batu Tembak atau Batu Senjata.

Kendati bentuknya mirip tempat tumbuk padi atau lesung, namun sejak dulu batu itu disebut orang Batu Lutau atau Watu Lutau.

Dari cerita orang tua, di titik batu itu berada sering terdengar suara letusan yang sangat keras. Suara itu lebih mirip suara tembakan. Di saat-saat tertentu, ada suara dentuman seperti guntur.

"Dulu kami sering dengar suara seperti letusan senjata api di Lutau. Tapi sangat keras. Mungkin seperti suara guntur yang sangat dekat," aku Willhelmina Sual, warga Desa Tondei yang kini sudah berusia 93 tahun.

Dipercaya oleh warga Desa Tondei bahwa bunyi letusan keras itu keluar dari Watu Lutau. Dari suara letusan yang sering didengar warga itulah sehingga warga setempat menamakan batu itu dengan nama Watu Lutau.

Dijadikan Tempat Ritual Budaya oleh Penganut Kepercayaan Lokal

Karena dipercaya sebagai peninggalan leluhur, Watu Lutau dijadikan tempat berdoa oleh penganut kepercayaan lokal.

Di waktu-waktu tertentu, belasan bahkan puluhan penganut kepercayaan datang ke tempat ini untuk melaksanakan ritual budaya.

Ada yang memakai pakaian kabasaran, ada yang hanya melengkapi dengan kain khas Minahasa, ada juga yang hanya mengenakan pakaian biasa.

Air Terjun Winosirang, Tertinggi di Kabupaten Minahasa Selatan

Selain Watu Lutau, Desa Tondei memiliki objek wisata alam Air Terjun Winosirang.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved